Bully yang Bodoh

Saya baru keluar dari dapur setelah memasak sarapan buat tiga orang keponakan yang sedang menginap di rumah saya (ada empat keponakan, tetapi satunya baru mengencangkan kawat-kawat behel sehingga tidak bisa mengunyah). Ketika saya tanyakan rencana mereka hari itu, mereka menjawab kalau mereka mau pergi ke bioskop untuk menonton film terbaru berjudul Push. Kebetulan mereka mempunyai sebuah acara televisi main-main di Youtube, namanya: thearashow. Ara merupakan singkatan nama dari mereka berempat. sARAswati-tARAsh-nabila lARAsati-dARA. Dara dan Nabila sedang liburan sekolah dari Singapura jadi mereka senang bukan kepalang bisa berkumpul dengan Tarash dan Saraswati lagi walau hanya seminggu. Kemudian saya menantang mereka dengan sebuah ide karena acara Ara Show sudah lama vakum. Akhirnya mereka mau merekam video candid di mall. Saya menawarkan bagaimana kalau mereka datang ke mall dengan tas kresek warna hitam dengan pakaian yang juga tidak usah gaya fashion-conscious ala Singapura. Saraswati dan Nabila menerima tantangan sementara Dara hanya bergidik karena ia sangat peduli dengan tampilan diri. Tarash tetap tergeletak di sofa menonton cartoon network tidak menggubris para cewek di sekelilingnya.

          Mereka berangkat memakai kaos dari goodie bag yang kedodoran. Yang satunya warna hitam, yang satunya putih. Yang pasti keduanya memakai kaos produk merk rokok. Saya ingin melihat reaksi orang-orang saat melihat mereka. Tetapi rupanya, mereka lebih nekad dari yang saya bayangkan. Seperginya dari rumah, mereka memakai sepatu biasa-biasa saja. Tetapi rupanya setibanya di mall mereka tukaran sepatu sehingga keduanya memakai sepatu belang antara kiri dan kanan. Saya jadi penasaran apa saja reaksi orang-orang saat melihat mereka berdua. Katanya ada yang berkomentar, “Anak jaman sekarang aneh-aneh aja sich gayanya.” Ada juga yang menertawakan mereka dari belakang. Ada juga ABG-ABG seumuran mereka yang berbisik-bisik sambil menatap benci. Tetapi yang saya heran, kenapa tidak ada satu pun komentar yang terdengar oleh mereka tentang seputar kaos bertuliskan merk rokok. Padahal kan rokok sebagai pemanja reward pathway melalui jalur nikotinik, tetap saja pembunuh berdarah dingin.   

Ketika saya menyusuli mereka dengan Tarash ke mall, saya merasa malu bukan kepalang karena mereka mengajak saya mengobrol dan menggelendoti saya dengan sengaja. Bukan karena saya merasa terkenal, tetapi saya benar-benar merasa malu karena mereka tidak punya urat malu. Saya jadi merasa saya ini bully yang bodoh. Saya yang menyarankan ide mengerjai mereka, tetapi malah berbalik saya yang malu. Mereka justru dapat menganggap setiap komentar yang masuk dari orang lain dengan tertawa-tawa dan lapang dada. Ini menjadi pembelajaran yang sangat baik bagi saya. Ketika jaman-jaman sekarang jelang Pemilu Legislatif 9 April 2009, banyak kandidat yang mendadak ja-im dan kebanyakan gaya (bukannya mati gaya), justru mereka anti mata gaya (ini jargon iklan. Maaf meminjam ^_^).

Menjadi bully harus waspada juga dengan karma. Suatu ketika saya pernah iseng mengganggu Icha. Saya dan ibu saya sedang pergi, sementara Icha ada di rumah saya dan menonton TV di kamar yang terletak di lantai paling atas. Pikiran iseng menghinggapi saya. Saya pun mengirimkan SMS: “Icha, di bawah kolong tempat tidur ada…” Sudah, isi SMS begitu saja. Terus tiba-tiba saya menjadi khawatir Icha ketakutan. Akhirnya saya menelfon ke telfon rumah. Tetapi tidak ada yang mengangkat. Padahal ada bibi juga yang kerja di rumah. Akhirnya saya yang menjadi panik dan menelfon ke HP Icha. Icha mengangkat dengan suara lirih. Dan ketika saya tanyakan: “Ichaaaa… kok gak angkat telfon rumah??” Eh dia malah mendadak nangis marah-marah. Akhirnya saya terpaksa menggamit mama yang sedang asyik berbincang dengan besan. Saya berbisik, “Hmm…kayaknya mesti buru-buru pulang dhe…” Mama langsung menatap saya dengan tatapan curiga. Kita buru-buru pulang dan saya berlari-lari ke lantai atas. Kebetulan rumah saya tipe split-level dan bila sedang berada di lantai atas, tampak kegelapan yang mencekam di lantai basement. Waktu saya mengetuk-ngetuk pintu, Icha membukakan pintu sambil cemberut. Saya memeluk Icha meminta maaf karena kejahilan saya. Icha mencubit saya kesal.

Nah, suatu malam, gantian saya sedang sendirian di kamar kerja. Hanya ada saya dan bibi di rumah. Ketika saya sedang asyik bekerja dengan komputer, sebuah pesan singkat masuk. Inti isinya (kalau tidak salah ingat): ”Tolong bukakan tali kain kafan saya, ikatannya terlalu kencang. (kalimat terakhir yang paling menyebalkan, red) Sekarang ini saya ada di jendela kamar kamu.” Saya yang awalnya tersenyum geli pada beberapa baris pertama SMS, tiba-tiba merasakan bulu kuduk saya berdiri gara-gara posisi duduk saya terjebak. Untuk berlari ke pintu, saya harus melewati jendela. Sementara si orang kurang kerjaan ini memojokkan saya dengan hantu di jendela. Saya pun membeku di kursi. Segala ritual doa saya lakukan untuk meredakan bulu kuduk yang makin berdiri.

Keesokan harinya Icha terbahak-bahak ketika mendengar cerita dari ibu saya. Komentarnya begini, “Hahahaha… kak Tee karma gara-gara ngeledekin akuuu…”

Saya yakin sekali mau pensiun dini dari hobi menjadi bully bagi keponakan-keponakan. Pada sebuah kunjungan saya ke acara sunatan Al-El-Dul (three little birds-nya Ahmad Dhani) bersama dengan Dara dan Nabila, justru saya yang terkena bumerang. Pada saat Dhani menyuruh saya ke toilet di lantai atas rumahnya, kebetulan saya berdua Nabila yang termangu saat berada di ujung tangga yang suram dan misterius, sementara kedua pintu di ujung tangga terkunci dari dalam. Pada saat saya melihat ke sisi yang lain, ada foto kuno dan buram dari salah satu pahlawan Indonesia. Muncul pikiran iseng saya untuk menakut-nakuti Nabila. “Nabila, foto itu…”  Kalimat saya berhenti sampai situ. Jelaslah Nabila lari tunggang-langgang menuruni tangga. Saya bengong melihat Nabila yang justru bisa menyelamatkan diri secepat kilat. Tinggal giliran saya yang terpaku di ujung tangga, sendirian dan merinding. Gara-gara saya pakai sepatu hak tinggi jadi tidak bisa berlari menuruni tangga cepat-cepat. Ouch…

Catatan:

Saraswati=Icha.

Larasati=Nabila.

Saya=kak Tee.

Diambil dari:

djakarta! the magazine No.118, 21 Maret ‘09.

 

Comments (9)

Proses Kreatif Novel 3some

3some, terbit 2005, Gagas Media

Novel ini ditulis pada pertengahan tahun 2005 di Jakarta dan diselesaikan di Perpustakaan Bung Karno di Blitar. Dalam ajaran agama Kristen yang diceritakan oleh seorang teman kepada saya, bahwa dalam kehidupan rumah tangga ada tiga pihak, yaitu suami, isteri, dan Tuhan. Namun dalam novel 3some, interaksi dua manusia juga terdiri dari tiga pihak, yaitu manusia, manusia, dan pihak ketiga (sisi gelap tokoh utama). Jadi 3some hanya bolak-balik bertutur tentang ambivalensi tindakan manusia yang tampak dari luar. Menandakan bahwa kadang apa yang dilakukan bukanlah apa yang sebenarnya hatinya inginkan. » Continue reading “Proses Kreatif Novel 3some”

Comments (8)

Imipramine

Imipramine, terbit 2004, Gramedia Pustaka Utama

Buku karya Yayasan Sejati yang berjudul Bajau membuat saya tertarik untuk menyelami filsafat hidup suku Bajau di lautan. Pada saat yang bersamaan saya sedang tidak bisa berhenti berpikir tentang eskapisme. Ada keinginan untuk berlari, baik dari akumulasi kesedihan karena hidup saat itu telah begitu berbeda dengan sebelumnya atau dengan kata lain ketidakmampuan untuk berdamai dengan realita. Akhirnya muncul sebuah dorongan untuk menuliskan novel bernafaskan kehidupan di lautan yang sederhana dan klasik sebagai sebuah utopia eskapisme. Novel ini ditulis menjelang akhir tahun 2003. » Continue reading “Imipramine”

Comments (6)

Kisah di Balik Mahadewa Mahadewi

Mahadewa Mahadewi , terbit 2003, Gramedia Pustaka Utama.

Novel ini ditulis pada pertengahan tahun 2002. Rasanya bakat menulis memang sudah ada dalam diri, tetapi tertunda dengan prioritas lain seperti mendahulukan pendidikan formal sehingga lulus menjadi dokter umum pada tahun 2002. Sempat juga merasa kecewa dengan materi pendidikan di The Creative Writing-Singapura yang tidak bisa mengakomodir letupan-letupan imajinasi pada saat masih berusia 16 tahun dan malah disibukkan dengan materi market survey. » Continue reading “Kisah di Balik Mahadewa Mahadewi”

Comments (4)

Jurnal Sederhana: Seri 2

Dalam Jurnal Sederhana: Seri 1 saya sudah menceritakan tentang rangkaian peristiwa bunuh diri yang terjadi di Jepang. Namun tugas saya bukan untuk investigasi kejadian bunuh diri pada orang-orang yang jika dilihat oleh mata telanjang saja justru sangat mewah dan anggun. Jangan datang ke Jepang jika tidak dapat berdandan rapi dan memakai pakaian yang cukup representatif (lebih tepatnya, keren). Setidak-tidaknya, perasaan minder akan muncul saat membaur diantara mereka, terutama pada musim dingin yang mana sepatu boots dan over coat yang mereka kenakan sangat menusuk-nusuk bola mata dan harga diri. » Continue reading “Jurnal Sederhana: Seri 2″

Comments (1)

Jurnal Sederhana: Seri 1

Saya bukan satu-satunya manusia yang memimpikan suatu kisah dalam film untuk dapat dijalankan dalam realita. Ada begitu banyak film yang merasuki hati saya, salah satunya Lost in Translation dengan setting di Tokyo Jepang. Dua orang asing yang bertemu di hotel Hyatt di daerah Roppongi. Sayang sekali pada kunjungan saya ke Jepang pada tahun 1995, saya masih terlalu kecil dan Sofia Coppola belum memproduksi film tersebut. » Continue reading “Jurnal Sederhana: Seri 1″

Comments (4)

Hello world!

Selamat datang di blog ini, tempat saya berbagi cerita dan pengalaman. Jika Anda juga ingin berbagi, silahkan manfatkan halaman komentar yang ada di bawah setiap tulisan/posting.

Comments (9)